Bagikan Artikel ini:

Jika kita berbicara permasalahan organisasi kemahasiswaan maka dengan spontan tersebutlah permasalahan-permasalahan: mahasiswa pragmatis, apatis, mandulnya kritisisme kampus, dst. Bagaimana dengan kondisi mahasiswa ataupun kelembagaan mahasiswa di FTSP? Sempatkah kita melakukan pembacaan mendalam terkait kondisi kelembagaan kita?

Doktrin bahwa mahasiswa adalah agent of social control, agent of change, dan doktrin usang lainya sudah kita terima sejak menapakkan kaki pertama kali di kampus FTSP. Bahkan sedemikian usangnya hingga tak jelas lagi wujud aslinya seperti apa. Akibatnya, dalam pelaksanaannya tidak satupun agenda lembaga kemahasiswaan di FTSP yang merepresentasikan fungsi-fungsi sosial tersebut.

Pokok permasalahannya adalah tidak mampunya doktrin-doktrin tersebut diinterpretasikan secara tepat di kampus calon engineer ini. Terlebih lagi lembaga kemahasiswaan hanya seperti menjadi radio yang terus-menerus menyiarkan ulang doktrin usang tersebut, tanpa penghuninya paham betul peran dan fungsi mereka pada tatanan sosial yang ada. Walhasil, mahasiswa umum tidak paham dengan fungsi sosialnya, sebuah konsekuensi logis yang diterima karena ujung tombak yang mengorganisir mereka –lembaga kemahasiswaan- juga tidak paham akan peran dan fungsi mereka.

Realita kekinian menunjukkan bahwa mahasiswa ‘berselingkuh’ dari perannya sebagai agen perubahan sosial. Tidak ada lagi empati terhadap penderitaan rakyat, tidak ada lagi gagasan revolusioner demi perubahan. Diskusi, kajian sosial-politik, turun ke jalan, dekat dengan rakyat sesuatu yang katanya identik dengan mahasiswa tidak sedikitpun tercermin di sini. Mungkin justru telah tergusur oleh obsesi individualistik layaknya IPK tinggi dan ingin lulus cepat. Terlebih lagi gaya hidup hedon justru menjadi “kondisi normal” di dalam kampus, seolah kita ingin mempertegas status kita sebagai middle class elite, jika meminjam istilah Oky Alex Sartono. Sebuah kelas yang, kata Karl Marx, dipandang serupa dengan elite borjuis.

Fungsi-fungsi sosial yang diemban mahasiswa dewasa ini bukan sesuatu yang menarik di kalangan mahasiswa FTSP. Padahal penjabaran fungsi–fungsi tersebut juga tertulis jelas pada Garis-Garis Besar Haluan Keluarga Mahasiswa (GBHKM) UII maupun Garis Besar Program Kerja Keluarga Mahasiswa (GBPK KM) FTSP UII, namun sepertinya Ketetapan Sidang Umum hanya menjadi pajangan di rak megah dalam ruang lembaga yang mewah.

Dari pemaparan di atas kita dapati dua masalah utama di FTSP. Pertama, gagal paham tentang peran dan fungsi mahasiswa. Kedua, ketidakpedulian terhadap Ketetapan Sidang Umum yang hakikatnya adalah dasar arah gerak lembaga kemahasiswaan. Akibatnya terjadi degradasi mutu kegiatan kemahasiswaan di FTSP. Tersebutlah kegiatan kemahasiswaan sejenis Porseni, Makrab, dan Seminar.

Kita sama-sama tahu bahwa setiap kegiatan di atas memiliki manfaat tersendiri. Sebagai contoh, Porseni memupuk rasa sportifitas, menjadi wadah minat dan bakat, menjadi ajang mencari pengalaman bagi panitia pelaksana, dsb. Namun apakah fungsi dan peran kita sebagai mahasiswa mutlak terwakili dengan porseni? Agenda kegiatan semacam ini seakan hanya menjadi ajang hura-hura, dan semakin menambah lupanya kita akan permasalahan sosial yang ada di luar sana.

Mungkin perlu juga kita mengajukan beberapa pertanyaan pada didiri kita. Perlukah memupuk rasa sportivitas sedangkan memupuk rasa kemanusiaan terlupakan? Puaskah minat dan bakat kalian tersalurkan, sedangkan rakyat diluar sana terus menerus berhadapan dengan ketidakadilan? Cukupkah kalian mendapat pengalaman dari menjadi panitia kegiatan yang bahkan bisa kalian dapatkan di masa SMA?

Tidaklah heran jika beberapa kawan mahasiswa menganalogikan lembaga kemahasiswaan layaknya Event Organizer. Bertugas hanya mengadakan event, event, dan event. Di sisi lain, menjadi pertanyaan besar ketika kita hanya fokus pada agenda yang bersifat event, namun kita mengeluh akan presensi 75%, akan sulitnya izin kuliah, akan banyaknya tugas kuliah yang menurut kalian itu menghambat kegiatan kemahasiswaan. Bahkan anak SMA-pun mampu mengadakan acara yang lebih wah, dan megah tanpa bermasalah dengan presensi. Tidak ada bolos sekolah dengan berlindung di ‘ketiak’ tugas kepanitiaan.

Jika kita hanya terus berjalan, tanpa mencerna, dan tanpa refleksi diri, maka tak pelak agent of social control dan agent of change hanya akan menjadi mitos kebanggan di masa lalu, menjadi dongeng pengantar tidur, menjadi naskah pidato pembukaan Ospek, tanpa ada maknanya selain sebagai doktrin wajib dari “abang” kepada adik-adik mahasiswa baru.

Bagikan Artikel ini: