Bagikan Artikel ini:

Baru-baru ini peneliti dari KU Leuven’s Centre for Surface Chemistry and Catalysis telah berhasil mengubah serbuk gergaji dari bahan bangunan menjadi bensin. Hal ini dimungkinkan karena serbuk gergaji mengandung selulosa. Selulosa adalah substansi utama dalam tanaman dan terdapat di bagian kayu yang tidak dapat dimakan, jerami, rumput, kapas, dan kertas tua. Selulosa inilah yang memungkinkan serbuk gergaji untuk dikonversi menjadi rantai hidrokarbon. Hidrokarbon ini dapat menjadi zat aditif untuk bensin atau sebagai komponen dalam plastik.

Peneliti lainnya, George W. Huber dari University of Massachusetts melaporkan soal proses pirolisis katalitik selektif. Pirolisis adalah sebuah metode baku yang melibatkan pemanasan material padat organik, termasuk limbah pertanian dan industri pada suhu tinggi dan kedap oksigen. Proses ini akan mendekomposisi material tersebut menjadi campuran hidrokarbon cair. Proses ini, untuk pertama kalinya, mampu mengubah secara langsung selulosa ke dalam senyawa yang untuk membuat bensin.

Menurut Dr. Bert Lagrain Sels dari tim KU Leuven’s Centre for Surface Chemistry and Catalysis, cara konversi ini adalah metode bio-penyulingan yang baru. Timnya sendiri tengah menantikan hak paten atas penelitian ini. Dr. Bert menjelaskan, dengan suhu dan tekanan yang tepat, hanya diperlukan waktu setengah hari untuk mengubah selulosa menjadi rantai hidrokarbon jenuh atau alkana.

Hasilnya adalah produk intermediet (setengah jadi) yang membutuhkan sebuah proses sederhana sebagai proses terakhirnya. Hasil akhirnya bisa disebut sebagai ‘bahan aditif hijau’ yang bisa dimanfaatkan untuk mobil, selama mobilnya masih menggunakan bensin cair. Namun ternyata pada aplikasinya ‘hidrokarbon hijau’ ini bisa juga dimanfaatkan untuk produksi etilena, propilena dan benzene, blok bangunan untuk plastik, karet, busa isolasi, nilon, pelapis dan sebagainya. Karena itulah Dr. Bert beranggapan bahwa selulosa memiliki banyak potensi. Apalagi, selulosa sangat mudah ditemukan.

Metode yang digunakan oleh tim dari University of Massachusetts sedikit berbeda. Para peneliti di UMass mengidentifikasi kondisi − kondisi reaksi yang diperlukan untuk mengontrol pirolisis dari serbuk selulosa dan karbohidrat berbasis biomasa lainnya yang dicampur dengan serbuk halus katalis zeolit. Selulosa pertama-tama akan terdekomposisi menjadi bahan organik volatil teroksigenasi yang secara selanjutnya memasuki pori-pori zeolit dan secara selektif mengalami serangkaian reaksi dekabonilasi, dehirasi, oligomerisasi dan reaksi lainnya.

Huber mengatakan, proses mereka memakan waktu kurang dari 2 menit pada suhu 600°C didalam reaktor yang didesain khusus yang dapat menghailkan senyawa-senyawa aromatis berupa naphthalena, ethylbenzene, toluena, dan benzena; produk samping termasuk arang, H2O, CO, dan CO2. Namun proses ini masih memiliki beberapa kekurangan saat ini. Sebagai contoh, para peneliti masih memakai selulosa murni sebagai bahan awal pirolisis. Tambahan lain, regulasi di US menetapkan jika campuran bensin harus mengandung senyawa aromatis lebih kecil dari 25% termasuk kurang dari 1% untuk bensin.

Lebih lanjut lagi, Dr. Bert merasa ‘hidrokarbon hijau’ ini bisa dijadikan alternatif untuk mengatasi kesulitan dalam menyaring rantai hidrokarbon. (sumber: Science Daily, cen.acs.org)

(Sofiati Mukrimah)

Bagikan Artikel ini: