Bagikan Artikel ini:

tak_lepas_menatap_jendelaJudul : Tak Lepas Menatap Jendela

Penulis : Patricia Stacey

Tahun : 2006

Penerbit : Q Press

ISBN : 979-99542-1-5


Novel psikologi ini bercerita tentang pengalaman si penulis sendiri —Patricia Stacey— saat dikaruniai anak keduanya bersama suaminya, Cliff pada tahun 1997. Secara fisik anak kedua mereka, Walker, tidak tampak bermasalah. Akan tetapi sebagai ibu, Patricia merasa ada yang tidak beres dengan Walker.

Walker tidak pernah memerhatikan dirinya, ibunya sendiri. Dia justru hanya tertarik dengan satu hal: cahaya. Dia tidak pernah melepas pandangannya dari jendela, salah satu tempat datangnya cahaya. Patricia dan suaminya mulai mencari informasi terkait dengan masalah ini.

Akhirnya, mulai diketahui orang-orang yang bisa mereka temui guna memperoleh informasi yang lebih jelas. Dari situlah, secara tidak langsung Walker divonis menderita autisme, meskipun pada saat itu sangat jarang anak-anak yang baru lahir sudah menunjukkan gejala autisme. Tidak mau menerima vonis mengerikan itu begitu saja, Patricia dan Cliff terus mencari cara untuk menyelamatkan masa depan Walker. Pencarian itu akhirnya mempertemukan mereka dengan Stanley Greenspan, seorang psikiater pelopor perkembangan anak-anak.

Dari sisi emosi, novel ini mampu membuat perasaan pembacanya tercampur-aduk. Kita dapat merasakan kesedihan yang mendalam saat mengetahui anak yang kita cinta menderita autisme. Kita juga bisa mengerti kemarahan Patricia mengapa anaknya yang harus mengalaminya. Dari buku ini kita dapat dengan mudah memahami bagaimana seorang ibu selalu ingin yang terbaik untuk anaknya. Juga tentang bagaimana sedihnya hati seorang ibu saat sesuatu yang berhubungan dengannya justru dapat menyakiti sang anak.

Kita juga bisa paham kenapa Patricia tidak menghiraukan kata-kata orang lain tentang dirinya yang terobsesi dengan kesembuhan Walker. Patricia juga berhasil menggambarkan betapa sulitnya menjadi ibu seorang anak yang divonis menderita autisme sementara dia masih ingin bekerja. Kita juga tidak pernah bisa membayangkan pipi seorang anak akan beruam setelah menyusu pada ibu kandungnya seperti yang dialami oleh Patricia. Bagi Patricia, mengusahakan segala yang terbaik untuk anaknya adalah kewajiban dan keinginan terbesarnya. Ia mengungkapkan segala perasaannya dengan sangat lugas, tidak bertele-tele, sekaligus tidak berlebihan.

Dari segi gaya bahasa, karena buku ini merupakan novel terjemahan, bisa dimaklumi jika gaya bahasanya sedikit sulit dipahami. Pemilihan kata yang rumit membuat pembaca bisa menafsirkan lain maksud dari kalimat tersebut. Oleh karena itu, pembaca bisa semakin termotivasi untuk menambah perbendaharaan katanya, atau justru sebaliknya, menjadi malas membaca. Penggunaan sudut pandang orang pertama sangat tepat diterapkan dalam novel ini, karena Patricia-lah yang benar-benar mengetahui cerita sesungguhnya.

Bab demi bab tidak selalu berhubungan karena buku ini berasal dari kejadian nyata. Akan tetapi pembaca tidak perlu khawatir, karena hal itu tidak lantas membuat novel ini membingungkan dari segi ceritanya.

Meski sangat menarik dari segi ceritanya, seperti yang banyak terjadi di novel based on true story, konflik yang terjadi di dalam novel ini terasa kurang klimaks. Meski memang sulit membuat konflik yang klimaks dari cerita kisah nyata, akan tetapi penulis bisa menonjolkan gaya bahasa untuk mengakalinya. Sayang sekali, meski mungkin sudah memiliki gaya bahasa yang bagus, lagi-lagi terjemahan yang memiliki diksi kurang baik ini mengurangi pemahaman pembacanya.

Hal lain yang cukup mengganggu adalah banyaknya kalimat yang dicetak miring, meski tidak ada alasan untuk itu. Selain itu ketiadaan footnote juga cukup aneh, mengingat novel ini adalah novel psikologi yang memiliki banyak istilah medis. Meskipun sudah dijelaskan melalui narasi, tetapi footnote tetap diperlukan jika pembaca ingin mencari tahu istilah-istilah tersebut lebih lanjut.

(Sofiati Mukrimah)

Bagikan Artikel ini: