Bagikan Artikel ini:
beton

Bahan bangunan ramah lingkungan (Foto: sciencedaily)

Ada banyak upaya yang dilakukan untuk meminimalisir kerusakan lingkungan yang terjadi,misalnya saja di Indonesia sekarang sedang giat-giatnya mengembangkan energi baru dan terbaharukan untuk dapat menjadi energi alternatif pengganti bahan bakar dari fosil. Sedangkan pada tahun 2009, pemerintah Malaysia meluncurkan Green Building Index (GBI) untuk mendorong pengembang dalam pembangunan gedung dengan memanfaatkan teknologi hijau, dan memberikan insentif bagi pemilik bangunan baru atau yang sudah ada untuk mendapatkan sertifikat GBI.

Melengkapi upaya Pemerintah Malaysia untuk mendorong penggunaan bahan ramah lingkungan dalam pembangunan Green Building, tim peneliti dari Fakultas Teknik Sipil, Universiti Teknologi MARA di Malaysia telah berhasil mengembangkan versi ramah lingkungan dari beton yang disebut green-mix beton yang dipublikasikan pada Maret tahun ini.dtgdtg

Dalam proyek ini, para peneliti di Universiti Teknologi MARA memperkenalkan beton hijau inovatif yang disebut “Green-mix Concrete” yang dirancang dan diproduksi menggunakan bahan konvensional tetapi sebagian campurannya digantikan dengan limbah yang dianggap sesuai dan bahan-bahan daur ulang untuk mencapai hasil yang sesuai, ekonomis dan keberlanjutan.

Beton hijau terbuat dari bahan baku yang baru – yaitu fly ash dan agregat dari beton guna ulang dan serat Aluminium. Fly ash merupakan produk limbah dari pembangkit listrik batubara dan umumnya dibuang di kolam penampungan dan dikirim ke tempat pembuangan sampah. Melalui rangkaian penelitian ditemukan bahwa fly ash memiliki potensi untuk menggantikan semen, bahan yang menyebabkan polusi udara dalam jumlah besar dari proses pembuatanya. Dalam rangka untuk mengurangi konsumsi bahan baku dan untuk meminimalkan limbah yang dihasilkan dari bangunan beton yang dihancurkan, beton yang telah hancur dapat digunakan kembali sebagai agregat. Bahan yang terakhir yaitu kaleng Aluminium yang digunakan karena dapat dengan mudah diolah menjadi kepingan serat dan digunakan sebagai penguat dalam beton.

Untuk menghasilkan beton baru ini dibutuhkan keahlian-keahlian teknis seperti desain beton baru, bahan baku baru dan pengetahuan baru dari sifat beton hijau. Tidak hanya ramah lingkungan, beton green-mix juga hemat biaya sebagai akibat dari proporsi bahan dari desain campuran beton baru ini. Dalam investigasi lanjutan dari peneliti, beton baru dapat mencapai peningkatan kekuatan hingga 30% dibandingkan dengan beton normal.

Peneliti selanjutnya menyebutkan kelebihan dari Beton Hijau ini antara lain:

  • Dirancang untuk memenuhi kebutuhan kekuatan dan kinerja selama pelayanan dari gedung atau bangunan;
  • Memiliki kandungan semen / karbon yang lebih rendah per unit beton yang diproduksi;
  • Memiliki potensi untuk komersialisasi dengan menyediakan pilihan beton alternatif yang ramah lingkungan untuk pengembang dan kontraktor, sejalan dengan Kebijakan Teknologi Hijau Nasional pemerintah Malaysia.

Aplikasi beton hijau telah menjadi populer di banyak negara beberapa tahun terakhir. Beton inovatif dapat diproduksi dengan menggunakan bahan limbah sebagai salah satu komponennya. Beton hijau juga dapat dikembangkan dengan menggunakan berbagai proses produksi yang tidak merusak lingkungan. Kriteria untuk beton hijau adalah bahwa bahan yang digunakan untuk membuat beton harus bersumber dari bahan berkelanjutan atau “bahan hijau” bukan sebaliknya. Penggunaan bahan daur ulang atau sampah dapat dianggap berkelanjutan karena mereka dapat menurunkan biaya dan bahan baku serta mengurangi pembuangan sampah.

Semoga saja langkah yang dilakukan pemerintah Malaysia dapat memberikan motivasi bagi pemerintah Indonesia untuk berkontribusi dalam gerakan ramah lingkungan khususnya dalam sektor green development building.

  • Sciencedaily

(Baiq Raudatul Jannah)

Bagikan Artikel ini: